Mengenal Minyak Esensial
affordablelifeinsurancequotescyq

Mengenal Minyak Esensial

Mengenal Minyak Esensial – Maria Lidwina Utami telah menggunakan essential oil sejak tahun 2017 untuk berbagai keperluan, seperti menghilangkan kesulitan bernapas, membantunya tidur, menenangkan mood, dan memperbaiki kondisi kulitnya.

Lidwina, yang menggunakan minyak esensial dari merek Young Living yang berbasis di Amerika Serikat, mengatakan bahwa ia biasanya mengoleskan minyak tersebut pada kulitnya dan menambahkannya ke dalam diffuser. Hasilnya memuaskannya, dengan efek samping minimal. “Kadang-kadang ketika kulit saya sensitif dan saya lupa mengencerkan minyak, kulit saya terasa agak panas atau iritasi,” kata Lidwina, seraya menambahkan bahwa dia tertarik untuk mencoba varian minyak esensial lainnya.

Demikian pula, jurnalis asal Jakarta Dianti Kurnianingrum juga menggunakan minyak esensial untuk meningkatkan kualitas tidur ayahnya. “Ayah saya di Magetan Kabupaten, Jawa Timur sedang dalam masa pemulihan dan saya memberinya minyak esensial untuk membantunya tidur lebih nyenyak,” kata Dianti.

Dianti secara rutin mencari informasi mengenai essential oil dari berbagai sumber, seperti dari blog, artikel dan orang-orang yang pernah mencobanya.

“Saya menganggap minyak esensial sebagai bagian dari gaya hidup kita, jadi itu bukan obat. Peran mereka adalah menunjang kesehatan kita,” ujarnya. “Saya masih akan ke dokter, tapi saya akan membantu mempercepat pemulihan dengan menggunakan essential oil yang sesuai dengan kondisi saya. Misalnya, jika saya mengalami insomnia, saya akan mencari tahu penyebabnya sebelum menggunakan minyak lavender.”

Ia melanjutkan bahwa ia tidak mengalami efek samping apapun dari pemakaian tersebut. “Segala sesuatu yang terlalu banyak tidak akan baik. Saya melakukan penelitian tentang minyak sebelum saya menggunakannya. Saya selalu memulai dari awal dan lambat – termasuk melakukan uji tempel di belakang telinga saya untuk memastikan bahwa minyak aman dioleskan pada kulit saya,” kata Dianti.

Natasha Clairine Mintaraga, pendiri aromatic wellness destination Rumah Atsiri (Rumah Atsiri) di Jawa Tengah, mengatakan minyak atsiri merupakan salah satu produk tanaman atsiri (tumbuhan aromatik).

Negara yang berbeda memiliki spesies tanaman aromatik yang berbeda berdasarkan beberapa faktor, termasuk iklim, suhu, kelembaban, dan jenis tanah. “Java Palmarosa dari Indonesia misalnya, memiliki aroma dan komponen yang berbeda dibandingkan dengan tanaman asli Palmarosa dari India. Tanaman asli Papua, Masoi, unik, karena tidak dapat tumbuh di lokasi lain,” tulis Natasha.

Di Rumah Atsiri, tanaman juga bisa dijadikan hiasan, penyegar udara berupa bunga rampai, atau bahkan minuman dan makanan ringan, seperti bagelen (penganan renyah dengan mentega manis) dan keripik.

Natasha mengatakan bahwa minyak esensial dapat mengandung konsentrasi zat tertentu yang sangat tinggi karena diperoleh dari banyak tanaman. Misalnya, satu tetes minyak esensial lemon sama dengan dua lemon. Jadi disarankan untuk mulai menggunakan minyak esensial dalam dosis yang sangat kecil dan mencampurnya dengan minyak pembawa.

Pada umumnya orang dapat menggunakan minyak esensial dengan tiga cara, yaitu dengan cara terhirup sebagai cara yang paling umum, dioleskan atau dikonsumsi. “Aplikasi topikal sering dilakukan dengan mengoleskan minyak esensial yang diencerkan pada kulit Anda,” katanya. “Tetapi jika menyangkut konsumsi minyak esensial, disarankan untuk melakukannya berdasarkan nasihat dokter.”

Ia melanjutkan, kesalahan paling umum yang dilakukan orang adalah tidak mengetahui cara dasar penggunaan oli. Natasha menyarankan uji tempel untuk mengetahui apakah pengguna alergi atau sensitif terhadap minyak.

“Masyarakat juga harus mendidik diri sendiri tentang karakteristik setiap essential oil, karena ada beberapa yang tidak boleh digunakan oleh orang yang sedang menjalani perawatan medis atau sedang hamil, maupun oleh bayi di bawah usia 1 tahun,” kata Natasha.

Dibuka pada tahun 2019 di lereng Gunung Lawu Desa Plumbon, Rumah Atsiri memiliki sekitar 110 tanaman aromatik, antara lain sereh wangi (serai wangi), sereh dapur (serai) dan rosemary.

Berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar, Rumah Atsiri memiliki restoran, taman, ruang pertemuan, museum, dan area glamping. Ini juga mengadakan lokakarya di bawah protokol kesehatan yang ketat dan memiliki toko multi-saluran, Toko Atsiri.

“Produk favorit kami di toko offline dan online kami sejauh ini adalah essential oil, reed diffusers, hand sanitizer dan gift set,” kata Natasha.

Di tengah pandemi COVID-19, Rumah Atsiri melakukan aktivitas virtual di Facebook dan Instagram, mulai dari tur museum hingga workshop, bekerja sama dengan institusi pendidikan dan bisnis lokal.

Natasha menyatakan bahwa mereka berencana untuk terus berkembang. “Semoga ide utama kami untuk menjadi ‘aromatic wellness destination’ semakin populer di kalangan wisatawan lokal dan internasional. Kami juga akan selalu mengangkat kekayaan botani Indonesia untuk memperkuat posisi kami dalam industri minyak atsiri global,” ujarnya.